Kajian Dewan Guru dan Wali Santri Pondok Pesantren Attaqwa Putra Membedah Buku “Shalawat Nariyah Sejarah dan Khasiatnya”

Pondok Pesantren Attaqwa Putra resmi membuka kembali kajian bulanan Dewan Guru dan Wali Santri Tahun ajaran 2021-2022 dengan bersama membedah buku “Shalawat Nariyah Sejarah dan Khasiatnya”, Sabtu 4 September 2021.

Acara yang dibuka dengan lantunan syair Pendiri Attaqwa, Al-Maghfurlah KH. Noer Ali, oleh tim hadroh santri Attaqwa Putra diselenggarakan secara hybrid (luring dan daring) dari Aula Yayasan Attaqwa Bahagia Babelan Bekasi. Acara dihadiri langsung oleh Pimpinan Pondok KH. Husnul Amal Masud, Lc., D.E.S.A., Wakil Pimpinan Pondok KH. Abdul Fattah Khoir, S.THI., Kepala Madrasah Aliyah, KH. Dr. Iman Fadllurrahman, Lc., M.A., Kepala Madrasah Tsanawiyah, KH. A. Zubair Dasuki, S.Ag., M.Si serta penulis buku “Shalawat Nariyah Sejarah dan Khasiatnya”, Dr. H. Alvian Iqbal Zahasfan, S.Si, M.A., dan Qori Internasional Peraih Juara 1 MTQ Internasional di Maroko 2019, Ust. M. Miftah Faridl Al-Mu’min.

Pimpinan Pondok Pesantren Attaqwa Putra, KH. Husnul Amal Mas’ud, Lc., D.E.S.A. dalam sambutannya menjelaskan pentingnya membaca shalawat kepada Rasulullah saw. sebagaimana ayat Al-Quran menyatakan :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS Al Ahzab: 56).

Lebih lanjut Pimpinan Pondok menjelaskan bahwa perintah membaca shalawat kepada Rasulullah saw. ini selain turun langsung dari Allah, juga dimulai langsung prakteknya oleh Allah SWT. Maka dalam konteks dunia pendidikan, peran para guru dan wali santri dalam membina para santri dan anaknya tidak cukup hanya memerintahkan dan mengajarkan nilai-nilai kesholehan, tapi guru dan orang tua santri juga harus menjadi yang pertama mempraktekkan perintah dan nilai-nilai keshalehan tersebut.

“Jika ingin anak dan santri disiplin, maka guru dan orang tua pun harus belajar untuk disiplin terlebih dahulu. Jika ingin mereka rajin ibadah, shalat, sedekah dan lain sebagainya, maka para guru dan orang tua lah yang harus mencontohkannya terlebih dahulu kepada para santri dan anak-anaknya”, tegasnya lagi.

Sementara dalam bedah buku yang dimoderatori oleh Ust. Bustanil Arifin, M.Pd., penulis buku Dr. Alvian menjelaskan bahwa Shalawat Nariyah adalah salah satu dari sekian banyak teks shalawat yang terkenal tidak hanya di Nusantara namun juga di belahan dunia Islam lainnya seperti Mesir, Turki dan Maroko sendiri tempat asal shalawat ini.

Dijelaskan Dr. Alvian yang juga alumni Institut Daar Al-Hadith Al-Hassaniyah, Rabat -Maroko, bahwa shalawat ini juga terkenal dengan nama-nama lain seperti Tafrijiyah, Munfarijah dan juga Taziyah.  Selain sering terdengar dibacakan di surau-surau nusantara menjelang waktu-waktu shalat, shalawat ini juga dibacakan serta diamalkan dalam berbagai kesempatan dan untuk berbagai macam hajat dan telah terbukti khasiatnya.

Saking populer dengan nama “Nariyah”, sebagian orang mengatakan pengarang shalawat ini juga bernama Syeikh Nariyah. Namun pembedah dan penulis buku “Shalawat Nariyah Sejarah dan Khasiatnya” membantah pendapat ini dengan sumber yang ilmiah.

Sedikitnya, menurut Dr. Alvian ada tiga pendapat kuat mengenai pengarang shalawat ini, yaitu Syeikh Ibrahim At-Tazi, Syeikh Ahmad At-Tazi dan Syeikh Abdul Wahab At-Tazi. Namun pendapat yang paling kuat menurut penulis buku adalah nama yang pertama , yaitu Syeikh Ibrahim At-Tazi. Pendapat inilah yang dipegang oleh salah satu keluarga ahli hadits di Maroko, Syeikh Abdullah Al-Ghumari, dalam kitabnya “Al-Hujaj Al-Bayyinat” dan Syeikh Abdullah Guennoun dalam kitabnya “An-Nubugh Al-Maghribi”. Pendapat ini juga diaminkan oleh Habib Mundzir Al-Musawwa, Sayyid Muhammad Zaki Ibrahim dan beberapa ulama lainnya. Ditambahkannya bahwa nama belakang “At-Tazi” sendiri adalah nisbah kepada kota TAZA, salah satu kota kecil asal pengarang shalawat tersebut di Maroko.

Selain menjelaskan dengan komprehensif sisi sejarah serta berbagai khasiat dari mengamalkan Shalawat Nariyah dengan jumlah bilangan-bilangan bacaan sebagaimana diajarkan oleh para ulama, penulis buku juga mengungkapkan bahwa sebab ditulisnya buku ini adalah untuk menjawab kegelisahan ayahandanya serta masyarakat asal daerahnya di Jember yang telah mengamalkan shalawat ini dan dituduh oleh sebagian kelompok lain dalam umat Islam sebagai amalan bid’ah dan bahkan musyrik. Padahal menurutnya, guru dari KH. Hasyim Asy’ari saja, yakni Syeikh Kholil Bangkalan yang disepakati kewaliannya oleh para ulama, telah mengamalkan shalawat ini dalam wirid kesehariannya. Maka segala kegelisahan dan tantangan problematika di tengah umat ini harus dijawab secara ilmiah melalui buku.

Menutup acara, penulis buku memberikan ijazah sanad Shalawat Nariyah kepada guru dan wali santri Pondok Pesantren Attaqwa. Mata rantai sanad yang diijazahkan bersambung langsung ke pengarangnya, Syeikh Ibrahim At-Tazi, melalui jalur salah satu ulama Nusantara yang diakui keilmuan dan otoritas sanadnya oleh para ulama dunia hingga bergelar “Musnid Ad-Dunia” atau “Musnid Al-‘Ashr”, yaitu Syeikh Muhammad Yasin Al-Fadani.

Selanjutnya para peserta kajian bedah buku mendendangkan bersama Shalawat Nariyah dipimpin sekaligus diiringi akustik apik oleh Qori Internasional Ust. M. Miftah Faridl Mu’min dan dilanjutkan doa oleh KH. Drs. Murdani Najib, M.Pd.

Sumber : Sekretariat Pondok Pesantren Attaqwa Putra

Leave a Reply